SELAMAT DATANG DI PONDOK PESANTREN BAYT AL-HIKMAH KOTA PASURUAN INFO PENDAFTARAN : Silahkan hub : 081553112245 (UST DHONY)| Terima Kasih

Keluarga: Pondasi Penting dalam Pembangunan Bangsa

Tanggal : 17 Juni 2016 Oleh : Administrator

Munculnya berbagai kasus asusila di tengah-tengah masyarakat seolah tak pernah berhenti akhir-akhir ini. Kiranya tak perlu disebutkan lagi, karena saya yakin, hampir semua orang jenuh mendengar peristiwa yang tersiar di berbagai media. Dengan adanya hal tersebut, apakah kita termasuk orang yang mulai terusik tentang keamanan putra-putri kita, atau bisa jadi,  kita adalah orang sudah tak lagi perduli dengan semua itu, karena masih asyik masyuk dengan pekerjaan masing-masing di luar keluarga. Miris rasanya, jika kita adalah orang yang termasuk dalam golongan kedua. Sibuk dengan pekerjaan, sibuk dengan rutinitas, dan secara tidak sadar, bahwa kesibukkan yang dilakukan membentuk pola asuh Neglectful, yakni pola asuh yang acuh terhadap perilaku anak.

Mccoby dan Martin (dalam Seligmen, 2002) menyatakan bahwa Neglectfull Parenting adalah bentuk pola asuh orang tua yang mengkombinasikan antara rendahnya control terhadap perilaku anak dan responsive yang rendah pula. Secara relatif, orang tua tidak melibatkan diri terhadap pengasuhan dan tidak perduli, bahkan bisa jadi, orang tua menolak kehadiran anak-anaknya karena orang tua sudah sangat kewalahan dengan masalahnya. Sehingga energy yang dicurahkan tidak cukup untuk menegakkan aturan.

Jika awalnya orang tua sudah tidak menginginkan anak untuk hadir di tengah-tengah mereka, maka fungsi keluarga menurut Peraturan Pemerintah (PP) nomor 21 Tahun 1994 (BKKBN, 1996) yang meliputi (a) Keagamaan, (b)Sosial, (c) Budaya, (d) Cinta Kasih, (e) Perlindungan, (f)reporudksi, (g) Sosialisasi dan Pendidikan, (h) Ekonomi,dan (i) Pemeliharan pun tidak akan terwujud. Orang tua yang menolak kehadiran anak-anak mereka di dalam kehamilan adalah bentuk awal konflik antara orang tua dan anak.  Nutrisi yang Ibu berikan tidak akan cukup, karena adanya perasaan-perasaan buruk dari sang Ibu. Beberapa hal ini seringkali terjadi dalam Ibu yang hamil diluar nikah karena mereka tidak siap untuk menjadi orang tua.

Orang yang hamil diluar nikah akan mendapatkan pressure yang berat. Seringkali, mereka kehilangan dukungan sosial dari keluarga, dan ditambah pula dengan stigma negatif dari lingkungan, dimana nantinya, akan membawa kondisi dalam perjalanan hidup kedepan. Lalu, apakah calon orang tua yang sedang mengalami hal tersebut sempat untuk memikirkan masa depan dari calon jabang bayi? Berbicara tentang pendidikan, berbicara moral dan bahkan tentang kebahagiaan.

Apabila hal tersebut sudah terlanjur terjadi, bukan berarti bahwa peristiwa-peristiwa yang ada tidak bisa untuk diminimalisir. Salah satunya adalah dengan melakukannya pada keluarga kita sendiri. Seperti yang Bunda Risman katakan, bahwa anak membutuhkan vitamin A. inilah yang disebut dengan Ayah. Ayah adalah Nahkoda, penentu garis besar haluan keluarga, dan dia yang akan menentukan kemana keluarga akan dibawa. Maka disinilah pentingnya peran Ayah dalam menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Ayah hebat akan menjadi contoh baik, bagi anak-anaknya.

Begitupula dengan Ibu, Jika ingin menghancurkan tatanan ummat, maka langkah yang pertama adalah menghancurkan tatanan keluarga, dan untuk merealisasikan hal tersebut dengan cara mengikis peran ibu. Jadikan para ibu malu untuk menjadi Ibu rumah tangga. dizaman era digital ini. Peran wanita semakin meluas. Wanita tidak hanya berkecimpung dalam dunia rumah tangga, tapi juga politik, bisnis, karir dan lainnya. Tidak masalah kiranya, ketika para wanita menjalani berbagai profesi yang ia tekuni di luar keluarga. Namun, wanita juga harus memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah pondasi penting untuk masa depan anak-anaknya.

Ibu adalah madrasah yang pertama. Kesiapan untuk menjadi seorang Ibu, sungguh sangat penting. Mengingat, di beberapa daerah tradisi perkawinan dini masih terus terjadi. Dengan dalih agar orang tua tak lagi bertanggung jawab untuk membiayai, karena anak mereka akan menjadi tanggung jawab suami. Padahal, dalam penelitian komprehensif oleh Around and Pauker (dalam Olson and DeFrain, 2003) menyatakan bahwa, perkawinan di usia 1-2 tahun adalah masa-masa yang sulit. Karena pasangan akan jauh dari keluarga, kehilangan kebebasan, dan mulai menjalakan fungsi sebagai pasangan. 50% pasangan baru merasa mendapatkan masalah-masalah nyata di awal perkawinan dan 40% pasangan baru merasa kehidupan perkawinan terasa berat dari yang mereka impikan. Terlebih dari perkawinan yang memang tidak diharapkan atau karena “bencana”.

Hubungan sebelum menikah, seringkali diwarnai oleh fantasi dan mitos, orang yang berwatak kurang baik akan berubah baik. Tapi sayang, perkawinan tidak akan merubah watak seseorang. Seringkali watak yang kurang disukai sebelum menikah, semakin menjadi jadi. Pastinya, orang tua harus faham, lebih bijak dalam menentukan kesiapan anak menuju perkawinan, dan terus mengawal selama proses perjalanan. Agar dapat muncul figur ibu yang hebat.

Ibu yang hebat jika bertemu dengan Ayah yang hebat akan menghasilkan anak-anak hebat. Mereka akan lahir menjadi keluarga yang hebat. Seperti yang disampaikan oleh Kiai  kampung di desa saya. Ada tiga syarat bagaimana membentuk Keluarga yang hebat. Pertama, seng rabi kudu ­podo uwonge (yang menikah harus sama-sama orang). Bukanlah dinamakan perkawinan jika satu mempelai adalah manusia dan pasangannya adalah jin atau selain manusia. Artinya, antara suami dan istri harus bisa nguwongno (saling menghargai) pasangannya. Kedua adalah, seng rabi kudu podo uripe (yang menikah haruslah sama-sama hidup) bukanlah dinamakan perkawinan jika satu pasangan hidup dan satunya meninggal. Artinya adalah, Ayah harus bisa nguripi (memberikan nafkah) dengan cara yang baik kepada Istri baik lahir ataupun batin. Ketiga adalah seng rabi kudu sijine lanang sijine wedok (yang menikah satunya laki-laki yang satunya perempuan) Artinya, laki-laki harus mengetahui tanggung jawab sebagai Ayah, dan perempuan, harus mengetahui tanggung jawab sebagai ibu. Masing masing saling bertanggung jawab, saling bekerja sama, dan berkolaborasi dalam melaksanakan perannya. Maka, perilaku LGBT bukanlah bentuk perkawinan, dan pasangan sesama jenis tidak akan menghasilkan keluarga yang hebat.

Inilah prinsip dari kampung yang sederhana, namun sarat akan makna. Tidak perlu dibicarakan anak-anak seperti apa yang akan terlahir dari keluarga hebat. Jikalau syarat ini sudah terpenuhi, baru kita bisa berbicara tentang moral, tentang pendidikan, hingga berbicara tentang kebahagiaan. Ketika berbicara tentang kebahagiaan, maka marilah membagi resep kebahagiaan di dalam rumah tangga kita kepada orang lain, atau kita, belajar dari rumah tangga orang lain. Agar setiap keluarga merasakan, dan melahirkan putra-putri hebat, untuk mewujudkan bangsa yang sehat. Merdeka!! by : Alfan AR (Guru BK SMP Bayt Al Hikmah)


Komentar Anda



Berita Terbaru

SEGUDANG PERMASALAHAN REMAJA KITA
Anak muda kita sekarang tidak lagi bikin pusing, tapi tambah bikin kepala jadi pecah. Pakai motor tiap hari, tapi tidak punya SIM, dipreteli pula. Keb

Standart Pendidikan Menjadi Pahlawan
Lan Fang, adalah teman bang AS, sebut saja AS Laksana, seorang penulis produktif di media masa. Saya tidak pernah bertemu dengan bang AS, dan hanya me

INTEGRASI PANDANG MANUSIA Menuju Rana Kognitif, Afektif Dan Psikomotorik Siswa
Berangkat dari sebuah pandangan bahwa manusia itu terdiri dari tiga komponen dan semua itu butuh proses pendidikan, yaitu : Manusia itu mempunyai aka

PESANTREN, SANTRI DAN KYAI
BAYT AL HIKMAH DOT NET – Tidak berlebihan jika Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang diperkirakan tak lekang oleh waktu dan tempat kecuali

MENUJU LEMBAGA PENDIDIKAN BERKARAKTER
Pasuruan – “Kegiatan Ekstrakurikuler di SMK belum dikatakan berhasil selama belum berhasil membangun karakter”, ujar Pak Aroem (nara

FOLLOW US

YAHOO MESSENGER

PENGUNJUNG

Flag Counter

Youtube Terbaru

GOOGLE +

Twitter