SELAMAT DATANG DI PONDOK PESANTREN BAYT AL-HIKMAH KOTA PASURUAN INFO PENDAFTARAN : Silahkan hub : 081553112245 (UST DHONY)| Terima Kasih

Standart Pendidikan Menjadi Pahlawan

Tanggal : 07 Maret 2016 Oleh : team Himmah

Lan Fang, adalah teman bang AS, sebut saja AS Laksana, seorang penulis produktif di media masa. Saya tidak pernah bertemu dengan bang AS, dan hanya mengenal melalui media. Semoga saja saya nanti bisa bertemu beliau dan ber-Selfie bersama seperti remaja remaji masa kini. Bang AS bilang, Lang Fang adalah wanita yang paling cewet tentang apapun.  Karena kecerewetannya, akhirnya ia menjadi sangat dekat dan hobi sekali menyapa teman-temannya. Andaikata kecerewetan Lan Fang diadu dengan kecerewetan kakak perempuan saya, pasti yang mendapat juara 2 adalah Lan Fang. Tidak perlu diceritakan betapa kakak saya menjadi sangat cerewet tentang segala-galanya.

                Saya masih ingat ketika kakak perempuan saya belum berangkat ke pesantren, dia hobi sekali menyapu rumah. Ketika saya melewati lantai yang sudah disapu, Allahu Akbar,, bisa dibayangkan betapa marahnya dia. Tidak ada barang yang dilempar, cukup dengan hembusan nafas, suasana rumah serasa pukul 12 siang di tengah lapangan sepak bola yang kering dimusim kemarau. Tidak pandang bulu, termasuk orang tua, bahkan nenek saya, ketika harus mengganggu kegiatan menyapunya, pasti mendapat perlakuan yang sama. Lebih daripada itu, ternyata kakak saya tidak hanya cerewet tentang hal-hal remeh temeh, tapi juga tentang pendidikan adik-adiknya.

                Kakak perempuan saya, adalah yang paling getol dalam berbicara tentang pentingnya belajar. Selalu saja mengobrak-abrik kakak laki laki saya untuk jangan pacaran dulu, kuliah itu harus serius, dan jadilah kebanggaan orang tua. Setidaknya, ketika semangat mulai menyusut, hanya cukup mengingat wajahnya dan secara otomatis, otak menggerakkan  tubuh saya untuk berangkat sekolah. Sempat saya berpikir pajang, kenapa orang harus sekolah, dan mempelajari banyak hal di dalamnya.  Padahal, banyak pelajaran yang tidak saya sukai, semacam IPA dan Matematika. Toh saya tidak akan pernah, dan tidak akan mau berkecimpung di dunia yang berbau sains. Ditengah kebingungan tersebut, jiwa muda saya terus berjalan kedepan dan melaksanakan apa yang diperintahkan orang tua dan kakak saya.

                Setiap orang tua, termasuk orang tua saya, memiliki perilaku konvensional terhadap pendidikan. Dipamiti anak ketika hendak berangkat, memberikan uang saku, dan berharap sekolah mereka lancar dan tidak sekalipun terlibat tawuran saat mereka masuk SMA. Diluar itu, orang tua memiliki harapan tentang sekolah, antara lain memiliki sensitivitas, imajinasi, kreativitas, mampu memahami dirinya dan lingkungan, mampu mengembangkan dirinya, dan mampu mengkomunikasikan isi pemikirannya dengan baik. Semoga itu adalah harapan yang wajar terhadap sekolah. Karena sekolah, adalah institusi resmi yang bertanggung jawab terhadap berlangsungnya pendidikan. Namun percuma, ketika kini, banyak sekolah yang berkualitas tetapi orang tua tidak memilih masuk di dalamnya. Padahal, titik penting dari pendidikan adalah bagaimana orang tua memberikan standart pendidikan terhadap putra putrinya. Termasuk, apakah standart pendidikan para orang tua mampu membuat seorang anak menjadi Pahlawan atau musuh dari Pahlawan itu sendiri.

                 Saya kira, setiap daerah memiliki pahlawannya masing-masing. Di dunia barat, ada Spiderman, Batman, Superman, Captain Amerika, dan kawan kawannya. Di Indonesia ada Kalong, Caroq, Godam si Manusia Besi, Gundala Putra Petir, Gatotkaca, dan lainnya. Entah kenapa, anak-anak kita, dan termasuk saya lebih suka menggemari pahlawan dari luar Indonesia. Padahal, super hero Indonesia tidak kalah hebat dengan supehero dunia barat. Padahal Tokoh-tokoh super hero ini ternyata sudah ada jauh sebelum saya dilahirkan. Seharusnya, superhero nusantara ini sudah menyapa anak-anak Indonesia lebih dulu karena kita adalah keluarga.

                 Menciptakan figure di benak anak-anak sungguh penting untuk perkembangan anak. Seorang anak laki-laki harus mampu memfigurkan dirinya kepada seorang Ayah, dengan seperti itu, dia mampu bertindak seperti laki-laki, begitu juga sebaliknya bagi anak perempuan. Bayangkan jika cara ini menjadi terbalik, seorang anak laki-laki memfigurkan dirinya menjadi seorang Ibu. Alhasil, perilakunya pun menjadi kewanitaan. Belajar adalah meniru. Anak akan meniru apa yang ia lihat, dan apa yang diperlihatkan oleh orang tuanya. Khususnya anak-anak yang masih berusia di bawah 3 tahun.

                Orang tua, sebagai pusat dari awal pendidikan, memiliki kewajiban memberikan tuntunan dan tontonan yang positif terhadap anak-anaknya. Saya kira, seorang pahlawan memiliki satu sikap yang wajib dimiliki. Yakni, sikap peduli terhadap sesama. Bagaimana kepedulian kita terhadap teman yang tertindas? bagaimana kepedulian kita terhadap orang miskin? Sudahkah anak-anak kita memiliki sikap itu. Karena ternyata, penelitian yang dilakukan oleh Profesor Decety menyebutkan bahwa tingginya sikap religiusitas seseorang tidak berbanding lurus dengan perilaku moralnya.

Semakin tinggi sikap beragama seseorang ternyata tidak membuat dia semakin baik. Terbukti, dari  sekitar 1000 anak untuk menjadi subjek penelitian, anak tidak beragama lebih bermoral daripada anak Kristen dan anak Muslim. Anak ateis lebih santun, lebih peduli dan lebih dermawan daripada anak Kristen dan Muslim. Pada dasarnya, mengajarkan agama berbeda dengan mengajarkan moral. Lagi-lagi orang tua, yang memiliki metode dan cara untuk mentransfer ilmu tersebut. Pertanyaannya adalah, apa metode dan cara yang dilakukan sudah tepat dan benar?

                Bagi saya, penelitian biarlah sebagai penelitian. Mari kita bertanya mendalam pada diri kita, semakin banyaknya tahajjud yang kita laksanakan, apa sudah membuat kita tidak melakukan korupsi? Semakin sering kita solat, apakah membuat kita tidak jutek kepada tetangga? Semakin rajinnya kita berpuasa apa membuat kita tidak berbohong? Akhir kata, semoga penelitian tersebut dapat kita bantah, dengan memberikan cara tepat dalam mengajarkan akhlakul karimah yang notabene sudah dicontohkan oleh Rasulullah, agar terbentuk pahlawan baru di tengah masyarakat ini, dan menjadi figur oleh anak-anak kita. MERDEKA!!! Amin - @lf4n @rifuddin -


Komentar Anda



Berita Terbaru

Workshop Pengabdian Masyarakat yang diadakan oleh Universitas Brawijaya Malang
Workshop Pengabdian Masyarakat yang diadakan oleh Universitas Brawijaya Malang pada tanggal 11 Agustus 2018 tentang Media Pembelajaran telah sukses di

Penandatangan MOU SMK Bayt Al-Hikmah dengan Brighton English Malang
Test of English for International Communication atau lebih sering disebut TOEIC adalah tes bahasa Inggris yang dirancang secara khusus untuk mengukur

LOWONGAN KERJA
Yayasan Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan membuka lowongan pekerjaan sebagai berikut : 1. Pengajar Tingkat SMP      a.  Guru PKN 2. Pen

Hari Santri Berkreasi
Bayt Al Hikmah - Perayaan Hari Santri Nasional tahun ini banyak dilakukan dimana-mana dengan berbagai macam ifent yang berbeda-beda. Kemarin (21/10) S

Senyum Buat Para Juara
Bayt Al Hikmah - Selalu mempunyai banyak ifent-ifent lomba untuk  ikut serta. Kemarin (7/10)  SMA dan SMK terbang ke kota pahlawan Surabaya

FOLLOW US

YAHOO MESSENGER

PENGUNJUNG

Flag Counter

Youtube Terbaru

GOOGLE +

Twitter