SELAMAT DATANG DI PONDOK PESANTREN BAYT AL-HIKMAH KOTA PASURUAN INFO PENDAFTARAN : Silahkan hub : 081553112245 (UST DHONY)| Terima Kasih

TANTANGAN ILMUAN MUSLIM TERHADAP GLOBALISASI

Tanggal : 08 Maret 2015 Oleh : team Himmah

" Alkisah, beginilah musuh Islam menghancurkan kita, yuk simak ceritanya…. "

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syariat Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan saya ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini maka berserulah “Penghapus!”. Murid-muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.
Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid – murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.
“Anak – anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq (kebenaran adalah kebenaran), dan yang bathil itu bathil. Namun kemudian musuh – musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama – tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dan didengung-dengungkan dengan cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh – musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.” “Keluar berduaan, berkasih – kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, pronografi dan pornoaksi menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain – lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid – muridnya. “Paham Bu Guru”
“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkan di tengah karpet. Qur’an itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak – anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid – muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat dan lain – lain, tetapi tak ada yang berhasil. Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialism. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
“Murid – murid, begitulah ummat Islam dan musuh – musuhnya. Musuh – musuh Islam tidak akan memijak – mijak kalian dengan terang – terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah – mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan – lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pondasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau pondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan – hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”
“Begitulah musuh – musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam kalian terang – terangan, tetapi ia akan perlahan – lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai (akhlak), cara hidup, pakaian dan lain – lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syariat Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”
“Kenapa mereka tidak berani terang – terangan menginjak – injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang – terangan menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar dan lain – lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan – lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang – terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak…”

Inilah yang dijalankan oleh musuh – musuh Islam. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At-Taubah yang artinya:
“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut – mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang – orang kafir itu benci akan hal itu.” (QS. At-Taubah: 32)
Musuh – musuh Islam berupaya dengan kata – kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata – kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui media massa, grafika dan elektronika, tulisan – tulisan dan talk show, hingga tak terasa.
Begitulah sikap musuh – musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?
Di dalam era globalisasi seperti zaman ini, kita hidup di era flow of information (arus informasi) yang tidak terbatas dan tidak bisa dibendung. Arus informasi ini dihantarkan memasuki kehidupan setiap insan manusia baik dari televisi, peralatan komunikasi dan internet. Tentu didalam informasi – informasi tersebut, ada hal positif dan ada juga hal negatif. Banyak tantangan ataupun produk produk yang dihasilkan oleh teknologi ini yang akan menjadi penghambat ataupun tantangan bagi kehidupan ataupun cara befikir ilmuan muslim. Contoh, dengan perkembangan alat komunikasi dan informasi, kemudian adanya internet yang tidak memberikan batasan terhadap para penggunanya khususnya ilmuan muslim, hal ini bisa saja akan memberikan dampak yang negatif, namun semuanya tidak akan memberikan dampak negatif jika kita menyikapinya dengan kegiatan yang positif. Sehingga perlu adanya sikap para ilmuan muslim yang bisa memanfaatkan produk – produk di era globalisasi ini untuk dijadikan media dakwah dan alat penangkal ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan ajaran islam. Bahkan untuk menangkal aliran – aliran yang seakan – akan berasaskan Islam akan tetapi mereka justru menghancurkan Islam. Oleh sebab itu produk globalisasi ini bisa semakin memperkaya pengetahuan para ilmuan muslim, dengan banyak membaca, mencari informasi sambil browsing untuk terus up to date terhadap permasalahan yang dihadapi oleh ummat Islam akhir – akhir ini. Karena hal tersebut bisa membantu ilmuan muslim untuk memahami apa yang seharusnya dilakukan dalam menyikapi tantangan di era globalisasi ini.

“ Barangsiapa menguasai informasi, ia akan menguasai dunia…”


Komentar Anda



Berita Terbaru

Workshop Pengabdian Masyarakat yang diadakan oleh Universitas Brawijaya Malang
Workshop Pengabdian Masyarakat yang diadakan oleh Universitas Brawijaya Malang pada tanggal 11 Agustus 2018 tentang Media Pembelajaran telah sukses di

Penandatangan MOU SMK Bayt Al-Hikmah dengan Brighton English Malang
Test of English for International Communication atau lebih sering disebut TOEIC adalah tes bahasa Inggris yang dirancang secara khusus untuk mengukur

LOWONGAN KERJA
Yayasan Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan membuka lowongan pekerjaan sebagai berikut : 1. Pengajar Tingkat SMP      a.  Guru PKN 2. Pen

Hari Santri Berkreasi
Bayt Al Hikmah - Perayaan Hari Santri Nasional tahun ini banyak dilakukan dimana-mana dengan berbagai macam ifent yang berbeda-beda. Kemarin (21/10) S

Senyum Buat Para Juara
Bayt Al Hikmah - Selalu mempunyai banyak ifent-ifent lomba untuk  ikut serta. Kemarin (7/10)  SMA dan SMK terbang ke kota pahlawan Surabaya

FOLLOW US

YAHOO MESSENGER

PENGUNJUNG

Flag Counter

Youtube Terbaru

GOOGLE +

Twitter