SELAMAT DATANG DI PONDOK PESANTREN BAYT AL-HIKMAH KOTA PASURUAN INFO PENDAFTARAN : Silahkan hub : 081553112245 (UST DHONY)| Terima Kasih

KH Ahmad Qusyairi

Tanggal : 05 Nopember 2014 Oleh : Team Humas Bayt Al-Hikmah

Beliau adalah seorang ulama besar, penyair dan sufi. Putra dari seorang pemuka agama bernama Mbah Kiyai Siddiq yang dibesarkan di Jember. KH Ahmad Qusyairi dilahirkan pada tahun 1302 H (1882 M) di kota kecil pesisir utara pulau Jawa Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang suatu kota kecil wilayah Jawa Tengah. Mula-mula berlajar kepada ayahnya di Lasem, kemudian dilanjutkan kebeberapa pondok pesantren, diantaranya adalah Pesantren Bangkalan Madura. Di Pesantren Kademangan Bangkalan beliau berlajar berbagai macam ilmu agama kepada Mbah Kiyai Kholil Bangkalan yang terkenal dengan sebutan Mbah Kholil, salah seorang wali agama terkemuka yang banyak melahirkan tokoh-tokoh agama seperti Mbah Hasyim Asyari pendiri NU.

Sebagai santri kesanyangan, Mbah Kholil mendidik sendiri seperti dianggap anak kandung sendiri sehingga sering kali beliau dididik dan dibimbing dikamar pribadi Mbah Kholil.

Disanalah mulai kelihatan tanda-tanda ketajaman otaknya, menguasai sejumlah besar ilmu-ilmu Agama. Hal ini diperoleh kerana berkat ketekunan dan doa sang guru yang kenamaan itu.

Selama belajar di Bangkalan, pernah diceritakan bahwa pada malam hari dibulan suci Ramadhan, Mbah Kholil menyuruh keluar semua santrinya dari dalam pondok untuk mencari kenikmatan yang di-idam-idamkan oleh banyak orang di bulan Ramdhann yakni “ Lailatul Qodar “. Dengan beberapa temannya KH Ahmad Qusyairi keluar berjalan-jalan disekitar pondok. Tiba-tiba beliau mengantuk dan ketiduran di teras masjid. Mbah Kholil yang pada waktu itu hendak kemasjid terlihatlah murid kesayangannya sedang tidur padahal yang lain giat beribadah. Kemudian Mbah Kholil mengikat sarung KH Ahmad. Pada pagi harinya setelah shalat subuh berjama’ah di masjid, Mbah Kholil di hadapan para santrinya menanyakan tentang seseorang semalam tidur yang sebagain sarungnya ada ikatan. Para santri tidak ada yang menjawab KH Ahmad Qusyairi yang merasa demikian semula tidak berani langsung mengakui bahwa di sebagian sarungnya ada ikatan. Mendengar pengakuan tersebut, Mbah Kholik bersyukur dan menyuruh semua santrinya untuk belajar Agama kepada KH Ahmad Qusyairi. Itulah sebabnya dikemudian hari beliau dikenal oleh banyak orang.

Selain di Bangkalan, beliau pernah pergi ke tanah suci Makkah untuk melanjutkan studinya selama kurang lebih tiga bulan. Dalam waktu yang relative seingkat ini, beliau dengan kecerdasan akalnya mempu menghafal Al-Quran 30 juz. Sepulang dari kota suci ini, beliau semangkin terkenal keulmaannya dan semakin taat beragama.

Kiyai Ahmad Qusyairi disamping dikenal sebagai tokoh agama  yang taat beragama dan tekun beribadah sunnah, dikenal pula sebagai penulis dan penyair dengan bahasa arab. Puitisasi syairnya banyak menguraikan soal hukum syariat dan sholawat Nabi Muhammad SAW. Diantara buah karya beliau adalah “Nadham Safinah” dan “Sholawat Nariyah”.

Disamping rajin menulis, beliau aktif mengajar dan berdakwah. hampir sampai ke Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Disana beliau kawin lagi dan membangun rumah sederhana untuk berumah tangga. Dengan perkawinan ini berliau sering pulang pergi antara Glenmore – Pasuruan.

Oleh karena sering pulang pergi, maka pimpinan pondok oleh Kiyai Ahmad Qusyairi diserahkan ke menantunya KH. Abdul Hamid bin Umar. Sedang menantu yang lain bernama KH Ahmad Sahal diperintahkan membangun sendiri pondok baru yang terletak di sebelah barat pondo Salafiyah yang sekarang dikenal “ Pondok Hidayatus Salafiyah” atau yang lebih umum “Pondok Arghob”. Dan belakangan ini istilah arghob oleh KH Sholeh Ahmad Sahal di tambah menjadi Ahmad Arghob. Lokasi pondok ini berada di Jl. Jawa. Kiyai Ahmad Qusyairi wafat pada hari Ahad tanggal 22 Syawal 1392 H (1972 M) di Pasuruan dalam usia 90 tahun dan dimakamkan di pemakaman Masjid Jami. Sebelum beliau wafat kurang lebih dua bulan, telah wafat dua orang tokoh agama yaitu KH Ahmad bin Sahal menantu beliau di Pasuruan dan Mbah Maksum di Lasem. KH Ahmad Qusyairi berputra-putri tidak sedikit jumlahnya karena beliau sering menikah dengan gadis-gadis yang pada umumnya dibawah standar ekonomi beliau.


Komentar Anda



Berita Terbaru

Workshop Pengabdian Masyarakat yang diadakan oleh Universitas Brawijaya Malang
Workshop Pengabdian Masyarakat yang diadakan oleh Universitas Brawijaya Malang pada tanggal 11 Agustus 2018 tentang Media Pembelajaran telah sukses di

Penandatangan MOU SMK Bayt Al-Hikmah dengan Brighton English Malang
Test of English for International Communication atau lebih sering disebut TOEIC adalah tes bahasa Inggris yang dirancang secara khusus untuk mengukur

LOWONGAN KERJA
Yayasan Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan membuka lowongan pekerjaan sebagai berikut : 1. Pengajar Tingkat SMP      a.  Guru PKN 2. Pen

Hari Santri Berkreasi
Bayt Al Hikmah - Perayaan Hari Santri Nasional tahun ini banyak dilakukan dimana-mana dengan berbagai macam ifent yang berbeda-beda. Kemarin (21/10) S

Senyum Buat Para Juara
Bayt Al Hikmah - Selalu mempunyai banyak ifent-ifent lomba untuk  ikut serta. Kemarin (7/10)  SMA dan SMK terbang ke kota pahlawan Surabaya

FOLLOW US

YAHOO MESSENGER

PENGUNJUNG

Flag Counter

Youtube Terbaru

GOOGLE +

Twitter